Dalam sebuah riwayat diceritakan ada tiga orang santri dengan seorang kyai sedang bercakap-cakap. Tiga orang santrinya mempunyai keisengan
ingin mendebat kyainya.
Salah seorang santri berkata "Wahai
Kyai. Kita semua tahu bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah
sudah ditentukan oleh Allah SWT. Orang yang baik karena takdirnya juga
baik. Orang jahat kenapa dia jahat karena memang taqdirnya juga jahat.
jadi sebenarnya kita berbuat macam-macam pun sudah takdir kita kan
Kyai..?"
Sang Kyai hanya bergumamam, "Oh..gitu ya.., kalian berdua apa pertanyaan kalian?"
Salah
seorang santrinya maju bertanya, "Begini Kyai, Sebenarnya saya ini
penasaran pengen lihat Allah..kok katanya Allah itu ada tapi saya kok ga
pernah lihat, begitu kyai.."
"Hmmm..begitu. Kamu apa yang mau kau tanyakan?"
"Begini
kyai..katanya setan itu kan terbuat dari api, lalu kalau ada manusia
berbuat maksiat ancamannya nanti masuk neraka, padahal neraka kan
katanya juga terbuat dari api. artinya orang yang beruat maksiat kan
temennya setan dan dimasukkan ke dalam neraka, semuanya kan terbuat dari
api, jadi yang namanya temen pasti sahabatan dong, ga panas juga kan
kyai..malah enak dong..banyak temennya di neraka..biduan biduan kan
malah cantik-cantik."
Sang kyai hanya manggut-manggut. Justru
membuat penasaran dan gemes tiga santrinya. mereka bertiga merasa menang
karena berhasil mengalahkan debat dengan kyai, karena ekspresi kyai
hanya manggut-manggut doang. Semakin penasaran melihat moment
ketidakberdayaan sang kyainya. Mereka bertiga kompak memaksa kyai untuk
memberi penjelasan seolah-olah mereka penasaran pengen tahu jawaban
padahal mereka menunggu saat terendah kyai. "Jawab dong kyai..jangan diam
aja, apakah pernyataan kami benar?"
Tiba-tiba sang kyai berucap, "Kalian semua mau tahu jawabannya?"
"Tentu dong kyai"
"Tunggu sebentar ya.."
Kemudian
sang kyai berlalu. Sesaat kemudian beliau muncul lagi dan langsung
melemparkan segenggam tanah kering ke muka ketiga santrinya. Mereka
semua kaget tak mengira kyainya akan berbuat sekasar itu kepda mereka.
Sambil
teriak-teriak mereka pertanggung jawaban kyai "Kyai ini apa-apaan
sih..kok berlaku curang ke kami, kami ini muridmu, kenapa kau berbuat
sekasar ini, tidak bermoral kyai ya.."
Tetapi sang kyai diam seribu bahasa dan meninggalkan mereka.
Tiga
orang santri itu kemudian mengadu kepada kodhi (hakim) dan mencaritakan
pengalamannya dengan sang kyai untuk minta keadilan. Singkat cerita
terjadilah persidangan perkara pelemparan tanah kering kyai terhadap
ketiga santrinya. setelah selesai pembelaan dari para korban,dan
pembacaan tuntutan kepada sang kyai, tibalah waktunya sang kyai memberi
penjelasan atas tindakannya (Moral reasoning).
"Begini Kodhi, katiga santriku ini menanyakan tiga hal :
1.
bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah takdir, sehingga kalau dia
meminta keadilan kepadamu katakan kepadanya bahwa sudah takdirnya bahwa
suatu saat dia akan mendapat perlakuan begitu, sudah takdirnya dia
dilempar oleh kyainya dengan tanah kering. lalu kenapa dia masih minta
keadilan, bukankah itu juga takdir. sehingga saya ga bersalah kan?"
2.
santri saya yang kedua, menyangsikan akan keberadaan Allah. dia ingin
sekali melihat Alla karena dia sangat penasaran. nah ketika saya
melemparinya dengan tanah kering itu sebenarnya saya ingin menunjukkan
kepadanya bahwa Allah itu memang ada. coba Kodhi tanyakan kepadanya
apakah dia merasa sakit? pasti sntri kedua akan menjawab sakit. kemudian
tanyakan kepdanya lagi, apakah dia melihat yang namanya sakit? pasti
jawabannya tidak melihat. itu artinya rasa sakit hanya bisa dirasakan
tetapi bukan untuk dilihat. sama hal nya dengan Allah..Allah itu tidak
bisa dilihat tetapi bisa dirasakan keberadannya. bukti-buktinya banyak
dan sangat jelas. sehingga ga perlu dipertanyakan lagi.
3. santri
ketiga saya mananyakan bahwa setan, neraka, dan orang yang berbuat
maksiat sama-sama kan dimasukkan ke dalam neraka yang terbuat dari api.
kalau sama-sama terbuat dari bahan baku yang sama maka mereka adalah
sahabatan, berteman, sehingga mereka tidak akan merakan sakit ketika
dibakar di neraka. Makanya saya buat perbandingan, santri saya kan
manusia yang terbuat dari tanah, kemudian saya lempari mereka dengan
tanah, kenapa mereka kesakitan dan teriak-teriak minta perlindungan dan
suaka kepada Kodhi, padahal kan sama-sama terbuat dari tanah, seharusnya
ga akan merasa sakit dong..untung cuma dengan tanah saya melempari
merke bertiga, coba kalau saya melemparinya dengan batako atau batu
bata..apakah mereka akan tahan dan merasa sahabatan atau berteman dengan
batako dan batu bata tersebut?"
Semua yang hadir dalam
persidangan terdiam dan mencerna reasoning pak kyai, dan mendapatkan
kepahaman tentang keadilan yang dituntutkan oleh ketiga santri tersebut.
sang kodhi pun manggut-manggut membenarkan pemahaman kyai. sehingga
hasil akhir persidangan memutuskan kyai bebar dari segala tuntutan atas
ketiga santrinya tersebut. Ketiga santri itu kemudia minta maaf kepada
kyai. mereka tersadar bahwa niat buruknya langsung mendapat jawaban dari
Allah langsung dirassakan di dunia, tanpa harus ditangguhkan sampai di
akhirat.
Maha benar Allah..memberi kepahaman dengan banyak kisah dan
pengalaman. Semoga riwayat ini dapat menambah pengetahuan dan memperkuat
keyakinan kita kepada Hukum Allah. Amin